Blue-and-Red Dragonfly

TAMPILANNYA anggun, tenang dan cukup akrab, tetapi dapat melesat secepat peluru apabila terganggu. Itulah kesan pertama ketika kita mengamati species capung ini. Ukurannya lumayan besar untuk wakil speciesnya dalam subordo Anisoptera, sekitar 4 – 5 cm, diukur dari kepala ke ujung abdomen.

Capung Odonata Sulawesi 2A

Capung Odonata Sulawesi 2B

Capung Odonata Sulawesi 2C

Pengamatan dan pengambilan gambar, dilakukan di beberapa tempat di Parepare, sekitar 150 km dari Makassar, ibukota Propinsi Sulawesi Selatan, dengan waktu tempuh antara kedua kota ini sekitar 3 – 4 jam. Sedangkan lokasi yang dipilih di Parepare untuk mengambil gambarnya, masing-masing di Bilalang, Bumi Harapan, dan di Watang Bacukiki (di sekitar Bendung Ladoma). Lokasi-lokasi ini umumnya berupa aliran kali kecil, yang di kiri-kanannya masih ditumbuhi vegetasi yang cukup lebat. Kecuali di Bumi Harapan, yang merupakan kawasan permukiman, lokasi-lokasi yang dipilih dapat dikatakan masih “cukup liar” walaupun di sekitarnya sudah merupakan areal pertanian marginal dan setiap hari ada saja penduduk yang melakukan interaksi pasif dengan para capung dan kali kecil ini, karena merupakan aliran sumber air untuk sawah-sawah di sekitarnya.

Capung Odonata Sulawesi 2D

Capung Odonata Sulawesi 2E

Capung Odonata Sulawesi 2F

Species capung biru-merah ini bersifat soliter, walaupun ditemukan cukup banyak, antara 10 – 15 individu di setiap lokasi, tapi mereka aktif tidak dalam sebuah kelompok. Para jantan, yang tampilannya sangat elegan, dengan warna biru-merah yang khas dan mencolok, bersifat aktif dalam menjaga daerah kekuasaannya. Species ini ditemukan menghuni lokasi secara bertumpang-tindih dengan cukup banyak species lain. Seringkali, dalam pengamatan, para jantan akan berkelahi di udara, baik dengan species yang sama maupun dengan species berbeda, dan kemudian terbang melesat lagi dengan sangat cepat, berdesing di antara suara-suara gemercik air.

Capung Odonata Sulawesi 2G

Capung Odonata Sulawesi 2H

Capung Odonata Sulawesi 2I

Betinanya, memiliki sedikit perbedaan corak dengan jantan, pemalu dan sangat jarang bergabung dengan para jantan. Betinanya, memiliki kepala dan dada (thorax)  yang coklat-kegelapan dengan garis-garis, dan perut (abdomen)  yang berwarna coklat lebih cerah. Selama pengamatan, betina hanya ditemukan satu kali, pada tempat yang kurang menguntungkan untuk pengambilan gambar (cahaya di bawah 50 %). Kelangkaan, atau sukarnya ditemukan individu betina ini, merupakan hal menarik yang perlu dikaji lebih jauh, dan hasilnya akan sangat penting dalam memahami seluk-beluk reproduksi dan konservasi bagi species ini.

Capung Odonata Sulawesi 2J

Capung Odonata Sulawesi 2K

Capung Odonata Sulawesi 2L

Species ini jarang dijumpai jauh dari genangan air, dan umumnya memilih tempat tenggeran dari ranting-ranting kering, hanya beberapa kali ditemukan hinggap di dedaunan, dan selama pengamatan tidak pernah ditemukan bertengger pada material non-kayu (misalnya pada batu-batu atau di lumpur kering dan pasir). Kemampuan terbangnya, selain sangat cepat, juga dapat mencapai ketinggian 15 meter dari permukaan tanah.

Capung Odonata Sulawesi 2M

Capung Odonata Sulawesi 2N

Secara umum, species ini menyukai tempat yang sepenuhnya terkena sinar matahari, atau bahkan menghindari daerah berhutan yang gelap. Walaupun di lokasi pengamatan cukup banyak tempat yang ternaungi pepohonan, yang merupakan tempat mereka melakukan aktivitas, tapi species ini tetap akan memilih tempat bertengger yang terkena langsung sinar matahari. Karena itu, mereka cukup mudah untuk diambil gambarnya.

Capung Odonata Sulawesi 2O

Berdasarkan data yang ada, species ini memiliki penyebaran yang sangat luas, dapat dikatakan mudah ditemukan di seluruh wilayah Sulawesi, bahkan di pulau-pulau lain di Indonesia. Secara taksonomis, perbendaan karena keterpisahan tempat hidup hanya ditunjukkan oleh variasi dalam subspecies. Namun,  belum ada pertelaan yang detil mengenai kehidupan species ini, atau bahkan mungkin terhadap semua species capung yang ada di Indonesia.

Capung Odonata Sulawesi 2P

Capung Odonata Sulawesi 2Q

Capung Odonata Sulawesi 2R

Capung Odonata Sulawesi 2S

Betina, pemalu dan jarang ditemukan - Female, shy and rarely found

Pada prinsipnya, di lokasi-lokasi tempat capung ini diamati, tidak ditemukan ancaman yang bersifat eksternal, misalnya penangkapan, kecuali hanya karena kerusakan dan penyempitan habitat. Ancaman yang mungkin ada hanya secara internal, terutama misalnya kemampuan perkembangbiakan yang rendah.

Kita hanya berharap, beberapa tempat akan disisakan untuk mereka, agar di red-blue bullet ini dapat bebas bercengkerama dan melesat seperti peluru-peluru menembus masa depan yang lebih langgeng… sebab tanpa mereka, berarti sebingkai lagi mozaik alam telah pecah berhamburan, dan kita gagap dalam menyusun cerita untuk generasi berikut.

Blue-and-Red Dragonfly

It looks elegant, calm and familiar, but can be raced as fast as bullets when disturbed. That first impression when we observe this dragonfly species. Considerable size for representative species in suborder Anisoptera, about 4 to 5 cm, from head to tip of the abdomen.

Observation and taking pictures, made in several places in Parepare, about 150 kilometers from Makassar, South Sulawesi provincial capital, with the travel time between the two cities is about 3 – 4 hours. While the selected location in Parepare to take pictures, each in Bilalang, Bumi Harapan, and in Watang Bacukiki (around Ladoma Check-dam). These locations are generally a small stream flows, which on either side were covered with a fairly dense vegetation. Except in the Bumi Harapan, which is a residential area, the locations selected can be said is still “wild”, although the surrounding is a marginal agricultural areas, and every day there are people who just do passive interaction with the dragonflies and with the small stream flows, because it is the flow of water to rice fields in the vicinity.

Species of blue-and-red dragonflies are solitary, although in a lot, between 10 to 15 individuals at each location, but they are not active in a group. The male, who looks very elegant, with a blue-and-red color characteristic and striking, are active in maintaining his territory. This species is found inhabiting locations overlap with many of other species. Often, the observations, the males will fight in the air, either with the same or different species, and then flew off again very quickly, whistling between the sounds of water splashing.

Females have a slightly different pattern with a male, shy and very rarely join the males. Females, has the head and thoraxdark brown with stripes, and abdomen is brighter brown. During the observation, the female was found only once, in a less favorable for taking pictures (of light below 50%). Scarcity, or the difficulty of female individuals was found, an interesting thing that needs to be studied further, and the results will be very important to understanding the reproduction and conservation of this species.

These species are rarely found far from water, and generally prefer the perch of dry twigs, only a few times found perched on the leaves, and during the observation was never found perched on a non-wood materials (e.g. on rocks or in mud and sand). The ability of flight, very fast, also can reach a height of 15 meters from the ground.

In general, this species likes full place in the sun, or even avoid the dark woodland. Although the location of observation enough trees shaded places, which is where they do activities, but these species will still choose for perches directly affected by the sun. Therefore, they are easy to take pictures.

Based on existing data, this species has a very wide spread, it could be easily found in the Sulawesi region, even on other islands in Indonesia. By taxonomists, the separateness different because is only indicated by the variation in the subspecies. However, no detailed described about the life of this species, or even perhaps for all species of dragonflies in Indonesia.

In principle, at locations where the dragonfly was observed, can’t find external threats, such as captures, but only because of habitat destruction and narrowing. Threats that might exist only internally, especially such a low reproductive capacity.

We only hope that, some places will be left to them, so that the red-and-blue bullet can freely mingle and flight like bullets into a future that is more durable … because without them, means one more natural mosaic has been shattered, and we stutter in preparing the story for the next generation. (ais)

Photos by Ais, 2009, Canon PowerShot S3 IS


About this entry