Si Genit yang Gemar Main di Arus Deras

UKURANNYA kecil, hanya sekitar 2,5 cm, tapi termasuk species yang “pemberani” karena bergabung dengan species capung lainnya yang berukuran lebih besar, yang tentunya, dapat saja memangsanya. Senang beterbangan dengan jarak-jarak pendek di antara bebatuan yang berair deras, atau bermain di busa-busa air.

Capung Odonata Sulawesi 4A

Capung Odonata Sulawesi 4B

Capung Odonata Sulawesi 4C

Capung Odonata Sulawesi 4D

Species ini, jantannya memiliki tampilan yang anggun, menarik dan cantik, karena kombinasi warna-warna yang mencolok pada badan dan sayap: biru, hitam dan oranye. Kelihatannya species ini termasuk tipe yang cinta damai, dan tampak lebih suka mengurus kesibukannya sendiri. Si jantan, hanya fokus pada bagaimana mendekati para betina, dan tidak usil dengan kesibukan berkelahi yang menandai kelompok capung dari species lainnya. Species ini, secara taksonomis, termasuk dalam subordo Zygopetra, kelompok capung jarum (damselfly).

Capung Odonata Sulawesi 4E

Capung Odonata Sulawesi 4F

Capung Odonata Sulawesi 4G

Di lokasi pengamatan, yang dilakukan selama dua hari, 13-14 Juni 2009,  pada sebuah sungai yang berbatu-batu dan berair deras di Parepare, tampak bahwa species ini aktif mulai dari pukul 07.00 s.d. 18.00.  Jantan menguasai wilayah yang tergolong sempit, sekitar 30 x 30 m, dan menyukai hinggap pada tonggak-tonggak kayu kecil atau bebatuan, terutama yang dekat-dekat dengan busa air. Ketika bertengger di tonggak kayu, terkadang tegak berdampingan dengan species capung lain yang berukuran lebih besar. Si genit ini tampaknya tidak menjadi gangguan, dan juga tidak merasa terganggu.

Capung Odonata Sulawesi 4H

Capung Odonata Sulawesi 4I

Capung Odonata Sulawesi 4J

Capung Odonata Sulawesi 4K

Capung Odonata Sulawesi 4L

Capung Odonata Sulawesi 4M

Capung Odonata Sulawesi 4N

Capung betina, hanya berwarna kecoklatan dengan strip atau bercak kehitaman pada thorax dan abdomen, terkesan acuh, hanya sibuk mencari serat-serat akar tumbuhan atau tumpukan material yang tersangkut di antara bebatuan, dan selanjutnya sibuk meletakkan telurnya di sana. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tersendiri, bagaimana mungkin telur dan larva yang menetas dapat bertahan di aliran air yang cukup deras? Induknya saja tergolong kecil, maka pasti larvanya jauh lebih kecil lagi. Tapi, tentu saja, begitulah alam mengaturnya.

Capung Odonata Sulawesi 4O

Tidak jarang, setelah berkejaran di antara bebatuan, mereka langsung kawin, dan kembali lagi si jantan bertengger, sementara betina meletakkan telur-telurnya lagi – pasti hasil perkawinan dari jantan yang lain. Menarik memang mereka, kecil, cantik dan genit, berseliweran di antara bebatuan. Selama pengamatan, dua hari, ditemukan tidak lebih dari 8 individu, tetapi pengamatan memang hanya dibatasi di satu lokasi.

Alam memang mampu meliris partitur untuk simponinya sendiri, warna-warninya sendiri, dan manusia dengan segala kelebihannya ternyata tidak selalu mampu mendengarkan musik yang mengandung kedalaman: kita larut dalam persepsi tentang kemanusiaan yang agung, tetapi lupa pada kesemestaan yang menjadi akhir dari sebuah nilai. Tentu, kita hanya dapat melengkapi kemanusiaan kita, jika si genit ini masih dapat bertahan hidup untuk terus bermain di arus deras.

The Priss, Enjoy to Play in the Water Running

Small size, only about 2.5 cm, but can be classified as “a bravely species”, because they are not afraid to joining with other larger dragonfly, which of course, can only eat it. They like to fly with short distances between the watery rocks, or playing in the water foam.

This species, males have an elegant appearance, attractive and beauty, because the combination of colors that striking the body and wings: blue, black and orange. In real life, this dragonfly is a peace-loving type, and looks more like taking care of their own preoccupations. The male, just focus on how to approach the females, and not meddling with busy fighting that marked the dragonflies from other species. This species, by taxonomist, classified them in suborder Zygopetra, the damselfly.

Observations at the site, conducted for two days, 13-14 June 2009, on a rocky river-stone and water rushing in Parepare (South Sulawesi), it appears that this species is active starting from 07.00 to 18.00. Male controls of the area belonging to a narrow, approximately 30 x 30 m, and they like perched on small wooden stilts or stones, especially those close to the water foam. When perched on a wooden stake, sometimes up together with other larger dragonfly. The priss does not seem to be a nuisance, and also not to be disturbed.

The females, only with a strip brown or blackish spots on the thorax and abdomen, seemed indifferent, just only trying to find the root fibers of plants or piles of material stuck between the rocks, and then busy lay their eggs there. This condition raises a separate question, how can the eggs and hatched larvae can be survived in water flow? Only relatively small parent, the larvae must be much smaller. But, of course, natural that the arrangements.

Not infrequently, after chasing each other among the rocks, they just get married, and the male returned again to perched, while the female laid her eggs again – must be the result of marriage from other males. This small species is very interested, beauty and priss, milling among the rocks. During the observation, two days, found no more than 8 individuals, but the observation was limited only in one location.

Nature has been singing its symphony, its colors, and the human with all the benefits were not always able to listen to music that contains deep: we are trapped in the perception of a great humanitarian, but forget the universality as the end of a value. Sure, we can only complement our humanity, if the priss still can survive to continue kidding in the rapids. (ais)

Phots by Ais, 2009, Canon PowerShot S3 IS


About this entry