The Wild in Red yang Adem

MEMANG, mereka seperti percik api yang melintas di retina mata kita, berseliweran dari ujung dedaunan ke ujung lain, dari ranting ke ranting, atau di punggung-punggung bebatuan. Species ini sebanding dengan species loreng yang juga merajai areal (lihat, The King of the Dragonfly yang Familiar), hanya si merah ini kalah agresif. Si merah ini jinak, mudah didekati, dan pintar berpose.

Capung Odonata Sulawesi 6A

Capung Odonata Sulawesi 6B

Capung Odonata Sulawesi 6C

Capung Odonata Sulawesi 6D

Capung Odonata Sulawesi 6E

Capung Odonata Sulawesi 6F

Dari lokasi pengamatan, species ini selalu ditemukan, baik di rawa, sawah, tepi sungai, kolam, pinggir ladang, semak-belukar di tepi jalan, dan bahkan di genangan air yang ada di pekarangan rumah-rumah penduduk. Didapatkan kesan, sepertinya ada individu yang menjadi “penetap” di sebuah areal tertentu; artinya: dari hari ke hari individu ini bertahan di tempat tersebut. Ketika salah satu individu ditangkap, dan diberi penanda pada sayapnya (sedikit tambahan warna putih), ternyata individu ini selalu ditemukan di tempat tersebut, sampai 8 hari berturut-turut. Hal seperti ini tidak terjadi pada si capung loreng – ketika diberi tanda, hari berikutnya sudah ditemukan di areal lain.

Capung Odonata Sulawesi 6H

Capung Odonata Sulawesi 6I

Capung Odonata Sulawesi 6J

Capung Odonata Sulawesi 6K

Capung Odonata Sulawesi 6L

Capung Odonata Sulawesi 6M

Daerah sebaran species ini memang luar biasa, yaitu hampir di seluruh Indonesia, bahkan di sebagian besar wilayah Asia. Untuk Selawesi Selatan, pengamatan baru saya lakukan di belahan barat, dan terbukti bahwa tidak terdapat daerah yang tidak pernah ditemukan keberadaan species ini. Bahkan, sampai ketinggian 700 meter dari permukaan laut. Umumnya, sepanjang terdapat daerah persawahan, terutama yang beririgasi baik, maka akan dapat ditemukan si capung merah ini.

Capung Odonata Sulawesi 6N

Capung Odonata Sulawesi 6O

Capung Odonata Sulawesi 6P

Capung Odonata Sulawesi 6Q

Secara fisiologis, capung ini berukuran 3 – 3,5 cm, dan memiliki berbagai gaya tampilan ketika bertengger, yaitu dengan sayap terangkat, diturunkan, atau disebar (spread). Species ini juga sangat efisien dalam menggunakan media untuk tempat bertengger, karena semua material yang ada dapat digunakan, bahkan termasuk senang bertengger di lumut-lumut yang menyembul dari permukaan air. Kelihatannya, species ini tidak memilih-milih komponen pembangun lingkungannya, yang penting aman, nyaman, dan tersedia cukup serangga mangsa.

Capung Odonata Sulawesi 6R

Capung Odonata Sulawesi 6S

Capung Odonata Sulawesi 6T

Capung Odonata Sulawesi 6U

Capung Odonata Sulawesi 6V

Capung Odonata Sulawesi 6W

Terdapat perbedaan antara individu jantan dengan betina, karena jantannya merah-menyala, sedangkan betinanya berwarna kecoklatan, tetapi keduanya memiliki spot bening (bagian yang transparan) pada ujung-ujung sayap. Pada capung anakan atau remaja (juvenile), warnanya mengikuti warna induknya, dan perlahan-lahan menjadi merah-menyala ketika menjadi jantan dewasa. Suatu hal yang menarik, anakan capung ini ketika baru keluar dari cangkang larva, umumnya memilih semak-belukar yang sedikit ternaungi untuk menjalani proses penguatan struktur tubuh (sayap dan thorax). Dari pengamatan yang cukup lama dilakukan, belum pernah species ditemukan dan diambil gambarnya ketika sedang dalam keadaan kawin.

Capung Odonata Sulawesi 6X

Capung Odonata Sulawesi 6Y

Dalam sebuah lokasi pengamatan, dengan luas 200 x 200 m, dapat ditemukan sebanyak 70 – 100 individu, dan yang paling banyak adalah para jantan. Betina ditemukan di lokasi hanya pada saat akan meletakkan telur-telurnya pada material-material yang terapung di air. Walaupun jumlahnya banyak, tetapi secara ekologis mereka tidaklah membentuk kelompok seperti halnya yang dilakukan oleh beberapa species capung. Kehadiran mereka di suatu area semata-mata karena adanya kepentingan yang sama, yaitu untuk kawin, mencari makan dan bertelur.

Warna-warna sayap para jantan, meskipun dapat disebut semuanya berwarna merah, tetapi sebenarnya terdapat juga variasi: merah bersih, merah-kecoklatan, merah-kehitaman gelap, atau merah-keabu-abuan.

Jika kita dengan seksama mencoba melihat harmonisasi antara berbagai komponen penyusun alam, tampaknya si capung merah ini adalah sebuah katarsis, yang memberikan informasi bahwa kehidupan ini sebenarnya sangat kaya dengan warna-warni. Di tengah kehijauan yang terkadang monoton, pada lokasi yang kehitaman habis terbakar, pada badan air yang coklat kekeruhan, pada batu-batu yang kaku dan kelabu, jika si merah ini hadir, tiba-tiba kita nanar pada sebuah focal point yang tampak menjadi aneh – merah, di tengah kesunyian dan kebisuan yang berbisik: kehidupan itu indah. Tentu saja, itu bisa terjadi, karena mereka memang the wild in red. (ais).

Foto-foto oleh Ais, 2009, dengan Canon PowerShot S3 IS


About this entry