Si Lurik di Bawah Bayang Daun-daun

KEBIASAANNYA berada di rimbun belukar, yang menjorok ke atas aliran air, terbang tenang dan bahkan terkesan seperti “mengendap-endap”, seringkali berpindah-pindah dari tempat terang ke ujung daun yang gelap. Secara fisik, species ini mencapai panjang 4 cm, tergolong cukup besar untuk kelompok capung jarum. Jumlahnya di alam cukup banyak, dan termasuk kelompok capung yang mudah didekati. Jika terganggu, biasanya terbang menghilang, tapi sabar saja dan tunggu, sebab beberapa menit kemudian capung ini akan muncul kembali.

Capung Odonata Sulawesi 15A

Capung Odonata Sulawesi 15B

Capung Odonata Sulawesi 15C

Capung Odonata Sulawesi 15D

Capung Odonata Sulawesi 15E

Cukup sulit untuk membuat deskripsi mengenai warna-warna pada capung ini, tetapi secara umum ada beberapa motif yang tampak permanen, yaitu wajah berwarna kuning, sedangkan perut atau abdomen hitam, dengan sayap bening. Sedangkan variasi warna pada badan (sebenarnya dada/thorax), merupakan kombinasi dari warna merah, hitam dan kehijauan, atau kuning, hitam dan kehijauan, atau coklat/krem, hitam dan kehijauan. Pokoknya bingung juga kita melihat variasi warna ini, dan tampaknya, suatu motif warna pada species ini tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan jenis kelamin, jantan atau betina.

Capung Odonata Sulawesi 15F

Capung Odonata Sulawesi 15G

Capung Odonata Sulawesi 15H

Capung Odonata Sulawesi 15I

Capung Odonata Sulawesi 15J

Species ini ditemukan menyebar cukup luas, tapi seringkali tidak mudah terlihat di semak-semak atau tepi hutan. Species ini bukan penghuni daerah-daerah terbuka, melainkan membangun aktivitas di pinggiran hutan yang berada persis di tepi aliran atau genangan air. Warnanya yang terkombinasi dengan baik, merupakan salah satu penyebab species ini sukar terlihat secara sepintas. Aktivitas tampaknya mencapai puncak pada pukul 09.00 s.d. 12.00, dan mulai mereda serta menghilang pada pukul 15.00 – mungkin mereka sudah kembali ke peraduan gantungnya.

Capung Odonata Sulawesi 15K

Capung Odonata Sulawesi 15L

Perkawinan tampaknya bukan hal yang sukar, sebab dalam kenyataannya mereka sangat mudah ditemukan sedang melakukan aktivitas tersebut. Dalam pengamatan, terdapat perbedaan warna antara yang jantan dengan betina – hanya saja, merah bisa kawin dengan kuning; merah dengan merah-coklat, atau kuning dengan krem, kehitaman dengan merah, atau kuning dengan… ah, bingung, pokoknya terjadi kawin-mawin sesuka-suka hati… begitulah! Jadi kalau ketemu satu individu, dengan warna tertentu misalnya, ya sukar untuk menentukan itu betina atau jantan. Ciri yang mungkin umum ialah warna jantan selalu lebih cemerlang dibanding warna betinanya.

Capung Odonata Sulawesi 15M

Capung Odonata Sulawesi 15N

Capung Odonata Sulawesi 15O

Dan tentu saja, terlepas dari persoalan warna dan jenis kelamin ini, mungkin yang paling perlu kita pikirkan adalah bagaimana mengupayakan langkah-langkah konservasi yang komprehensif. Kasihan, capung-capung yang cantik ini, bagaimana mereka bisa bertahan jika kita, manusia, tidak berupaya menempatkan mereka sebagai sesuatu yang berharga, yang harus dijaga sebagai sebuah keniscayaan. Mungkin karena naluri itu juga, capung lurik ini akhirnya memilih untuk bertahan di bawah bayang daun-daun. (ais)

Foto-foto oleh Ais, 2009, dengan Canon PowerShot S3 IS


About this entry