Wero-wero, Penjaga Sarang yang Baik

MESKIPUN bentuknya sedikit berbeda, tetapi serangga yang cantik ini masih dalam kekerabatan lebah (bees), dan punya ciri yang sangat dikenali, yaitu apabila diusik mereka akan menyerang dengan menggunakan sengat. Serangga yang di lingkungan orang Bugis ini dikenal dengan nama wero-wero, memiliki ukuran 2-2,5 cm, dengan warna coklat, putih, kekuningan dan hitam. Sayapnya sedikit transparan pada bagian pangkal, sedangkan ujungnya berwarna gelap kebiruan.

Lebah Hymenoptera Sulsel 1A

Lebah Hymenoptera Sulsel 1B

Lebah Hymenoptera Sulsel 1C

Wero-wero termasuk kerabat lebah yang juga membentuk koloni, dengan jumlah anggota paling kurang 7 individu, dan biasanya paling banyak 20-25 individu. Koloninya sangat mudah dikenali pada saat mereka bersarang, karena mereka secara bergilir akan terus-menerus di sarang untuk menjaga telur atau larva, yang ditempatkan dengan cara “dipinggit”, dengan menutup lubang-lubang mulut sarang. Individu dewasa bergerak sendiri-sendiri ketika mencari makanan, berupa nektar yang dikumpulkan dari bunga-bungaan. Sarang ditempatkan menggantung di bawah permukaan daun, dengan lubang mengarah ke bawah. Sarangnya, terbuat dari selaput yang tipis mirip filamen, tapi kemungkinan dari material yang direkat dengan menggunakan enzim pada liur. Satu lubang terowongan kecil pada sarang, akan diisi dengan satu telur yang akan menjadi larva.

Lebah Hymenoptera Sulsel 1D

Lebah Hymenoptera Sulsel 1E

Lebah Hymenoptera Sulsel 1F

Sepanjang tidak diusik, wero-wero ini termasuk serangga yang bersahabat, bahkan dapat didekati sampai dengan 10-20 cm, terutama untuk individu-individu yang sedang berjaga di sarang. Tetapi ketika merasa terganggu, mereka akan berhamburan dan menyerang pengganggunya. Sengatannya lumayan perih, tapi umumnya tidak berbahaya. Foto wero-wero yang ditampilkan di sini, diambil di Parepare (Sulawesi Selatan), pada Maret dan April 2009. (ais)

Foto-foto oleh Ais, 2009, dengan Canon PowerShot S3 IS


About this entry