Katak Batu, yang Senang Bercumbu

SPECIES katak yang sangat umum ditemukan, hadir di setiap ada genangan air, tetapi umumnya di dekat-dekat dengan gerombol batu atau di sekitar permukiman manusia. Ukurannya, dari ujung moncong ke pangkal ekor sekitar 8-11 cm, hidup soliter, tetapi berkelompok sangat banyak pada musim kawin. Pada musim penghujan, pada malam hari secara kompak memperdengarkan suara koor… ke ke ke! Mereka terlihat sangat aktif kesana-kemari pada menjelang malam, dan sangat berperan dalam mengurangi jumlah nyamuk, laron dan berbagai jenis serangga. Jika siang hari, mereka umumnya mendekam di bawah batu-batu besar atau tumbukan batang kayu. Orang Bugis menyebutnya bakeke.

Katak Sulawesi 1A

Katak Sulawesi 1B

Warnanya yang abu-abu kehitaman sangat sesuai dengan kondisi tempat tinggal mereka, walaupun pada musim kawin, mereka berada di antara gerumbul tanaman air yang berwarna kontras, hijau. Pada saat  bertelur, si betina dapat melepas ratusan telur, yang akan menetas menjadi kecebong. Species ini tidak terlalu kuat melompat, malah tergolong lambat bergerak untuk ukuran katak, sehingga mudah ditangkap. Sering ditemukan mati tergilas ban mobil di jalan-jalan aspal, karena melintas pada malam hari.

Katak Sulawesi 1C

Katak Sulawesi 1D

Katak Sulawesi 1E

Foto-foto yang ditampilkan di halaman ini, diambil di Parepare (Sulawesi Selatan) pada Oktober 2009, pada sebuah kolam pekarangan yang ditumbuhi teratai. Oktober, termasuk musim kawin bagi species ini, tapi juga sangat ditentukan oleh penghujan dan ketersediaan air. (ais)

Foto-foto oleh Ais, 2009, dengan Canon PowerShot S3 IS


About this entry